BAB 1
KEKUATAN DOA
Niat baik terus dijaga, dipelihara, dibalut dengan doa
sebagai pengantar menembus langit ketujuh hingga sampai
kepada Allah Swt.
Adi Rustandi
Ramadhan,
bukan nama sebenarnya. Seminggu yang lalu, ia mengisi kegiatan LDKM (Latihan
Dasar Kepemimpinan Mahasiswa) di Gunung Puntang, Banjaran, Kabupaten Bandung,
Jawa Barat, dan aku menjadi bagian dari kepanitian LDKM tersebut.
Saat
ini, ia berprofesi sebagai Dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota
Bandung. Rama, panggilan akrabku. Ia menceritakan sekelumit perjuangan hidupnya
dari kecil hingga sekarang. Tujuannya adalah memberikan motivasi dan inspirasi
kepada mahasiswa agar semangat dalam mengejar mimpi dan cita-citanya.
Terlahir
dari keluarga sederhana, orang tuanya telah berpisah sejak ia berusia enam
tahun. Rama dibesarkan oleh seorang ibu yang kuat dan tegar. Profesi ibunya
sebagai asisten rumah tangga di komplek dekat rumah. Bahkan, sesekali ibunya
berjualan gorengan di sekolah, di mana Rama bersekolah. Tapi, tak pernah ia
merasa malu atau bahkan gengsi. Malah, ada binar bahagia di kedua matanya yang
hampir saja berjatuhan.
Tanpa
rasa malu dan canggung, Rama bercerita sambil berkeliling di antara peserta
LDKM. Ada yang menahan haru, ada yang menggelengkan kepala, dan bahkan, ada di
antara mereka yang tertunduk kemudian menangis. Enatahlah, mungkin saja mereka
teringat orang tuanya di rumah.
“Kondisi
keluarga yang membuat saya berpikir untuk berubah. Berubah menuju masa depan
yang gemilang. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi? Kalau bukan saat ini,
kapan lagi?” kata Rama sambil mengepalkan tangan ke atas.
“Satu
hal, kalau kita ingin maju, pendidikan harus diutamakan. Saya tidak mau seperti
kakek dan nenek saya yang hanya lulusan SR (Sekolah Rakya) atau sederajat sekolah
dasar. Saya tidak ingin bekerja seperti ibu saya menjadi buruh. Cukup! Ya,
cukup hanya mereka yang merasakan penderitaan dan kesedihan. Tapi, tidak buat
saya. Saya haru lebih baik daripada mereka. Baik itu pendidikan maupun pekerjaan.”
Peserta
kembali terdiam. Namun, semangatnya nampak menggelora.
“Apa
kunci sukses dalam hidup Bapak?” tanya salah seorang peserta LDKM.
“Kuncinya,
adalah menanamkan niat untuk berubah, terus berusaha, dengan tidak melupakan
doa. Doa bukan hanya dari diri sendiri. Bukan hanya dari orang-orang tercinta di
sekeliling kita. Tapi, biarkan alam pun turut mendokan keberhasilan kita di
masa depan.”
“Selanjutnya,
Pak?” sahut peserta kembali.
“Bersyukur!”
Hingga
perlahan, suasana LDKM berubah hening.
***
Rama
adalah temanku sewaktu SMA. Sekarang, kami dipertemukan kembali dalam satu
naungan institusi pendidikan. Aku tak menyangka setelah kemarin mendengarkan cerita
inspiratifnya. Banyak ilmu dan banyak pengalaman yang bisa aku realisasikan
dalam menatap masa depan.
Tepat
setelah salat zuhur, aku mencoba mengajak Rama untuk berdiskusi. Aku masih
penasaran atas apa yang sudah disampaikannya beberapa waktu lalu di LDKM. Ada
satu pertanyaan yang masih mengganjal di benak dan di hatiku.
“Ram,
kalau boleh tahu, doa apa yang selalu kamu sampaikan kepada Allah? Sehingga,
kamu seperti sekarang?” tanyaku diiringi senyuman.
Lama
tak dijawab pertanyaanku. Mungkin, pertanyaanku dianggap konyol olehnya. Rama
hanya melemparkan senyumnya ke arahku.
“Ceritalah,
Ram. Aku sangat terinspirasi dari ceritamu kemarin.”
Rama
sedikit mengubah posisi duduknya. Pelan, ia menatap wajahku.
“Sejak
kecil, tak banyak yang aku minta kepada Allah. Aku hanya meminta bisa sekolah,
sekolah, dan terus sekolah. Alhamdulillaah,
doaku selalu dikabukan. Aku hanya perlu bekerja keras dalam belajar. Allah
berikan banyak beasiswa pendidikan kepadaku. Investasi terbaik itu bukan harta.
Tapi, pendidikan. Makanya, dalam doaku selalu aku meminta dimudahkan dalam
mendapatkan pendidikan,” jawab Rama tersenyum.
“Jadi?”
tanyaku kembali penasaran.
“Dengan
kekuatan doa. Allah memampukan diriku untuk menyelesaikan SD, SMP, SMA, hingga
perguruan tinggi dengan beberapa beasiswa di tengah-tengah kesulitan ekonomi
yang selalu hadir di kehidupanku.”
“Asli?”
kataku mencoba memotong tidak percaya.
Rama
hanya menganggukan kepala diiringi senyuman penuh ketulusan dan kesungguhan.
***
Aku
benar-benar bangga mempunyai rekan kerja seperti Rama. Ia mengajarkan arti
kekuatan doa. Niatnya yang kuat, bulatnya tekad, diiringi doa yang tidak putus
telah mengantarkannya menuju gerbang kesuksesan. Sukses dalam pendidikan dan
suksen dalam pekerjaan.
Niat
baik terus dijaga, dipelihara, dibalut dengan doa sebagai pengantar menembus
langit ketujuh hingga sampai kepada Allah Swt.
“Ya Allah, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau
berikan kepda hamba-hamba-Mu yang shalih.”
***
Gunung Puntang, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
2015

